Langkah-langkah dalam Analisa Risiko Kesehatan Satwa Liar
Dalam konservasi orangutan di Indonesia, kegiatan penyelamatan, rehabilitasi, dan reintroduksi orangutan membawa risiko tersendiri bagi kesehatan orangutan, manusia, serta lingkungan. Karena kedekatannya dengan manusia, orangutan (Pongo sp) berpotensi tertular dan menularkan berbagai macam patogen penyebab penyakit (virus, bakteri, jamur, dan parasit). Selain patogen penyebab penyakit, faktor non-penyakit seperti polusi, bencana alam, dan aktivitas manusia juga merupakan ancaman yang patut diwaspadai dan dikelola.
Analisa Risiko Kesehatan Orangutan (ARKO) menggunakan metode standard yang saat ini dikenal dengan nama Wildlife Disease Risk Analysis (WDRA)* yang telah dipublikasikan oleh IUCN dan WOAH (dulu OIE).
Proses WDRA merupakan sebuah siklus yang disusun untuk membantu pengambilan keputusan dalam ketidakpastian dan ketiadaan data. WDRA membantu dalam menentukan peluang dampak yang akan timbul atas ancaman kesehatan satwa liar, baik penyakit maupun non-penyakit.
*Jakob-Hoff, Richard M., et al. Manual of procedures for wildlife disease risk analysis. Vol. 2014. Paris, France: World Organisation for Animal Health, 2014.
Pada tahun ini (2024), tim IUCN CPSG (Conservation Planning Specialist Group) dan WOAH akan memperbarui manual WDRA menjadi Wildlife Health Risk Analysis (WHRA).
Konsep Kunci dalam WDRA
Risiko
Risiko bisa diartikan sebagai peluang atau kemungkinan terjadinya sesuatu yang buruk.
Dua komponen dalam risiko: kemungkinan >< dampak.
Penyakit
Penyakit didefinisikan sebagai gangguan pada struktur atau fungsi pada makhluk hidup.
Tiga hal mengenai penyakit:
1. Penyakit tidak pernah terjadi secara acak.
2. Semua penyakit disebabkan oleh banyak faktor (multi-factorial).
3. Penyakit terjadi karena interaksi tiga faktor utama: agen, inang, dan lingkungan.
Obyektifitas
Analisa risiko berusaha obyektif, akan tetapi seringkali karena tidak ada data, maka penilaian subyektif tetap digunakan.
Melibatkan pihak-pihak multi-disipliner membantu memberikan pandangan yang lebih luas dan berimbang dalam analisa.
Proporsionalitas
Analisa risiko membantu memastikan bahwa besaran tindakan yang dilakukan proporsional dengan risiko yang ada.
Daftar prioritas akan membantu menjustifikasi tindakan dan strategi berdasarkan proporsi risiko yang dinilai.
Risiko yang Dapat diterima
Segala tindakan pasti ada risikonya, baik besar atau kecil.
Menentukan batas risiko yang dapat diterima oleh semua pihak membantu mencegah terjadinya 'do nothing'.
Prinsip Kehati-hatian
Ketika tidak ada bukti/data, sebuah risiko harus diasumsikan ADA.
Hal ini juga menjustifikasi adanya tindakan untuk mencegah risiko yang belum terjadi.
Asumsi
Asumsi dalam hal ini berarti sesuatu yang belum diketahui secara pasti.
Dalam melakukan analisa risiko, asumsi perlu dijabarkan dengan jelas agar tidak kabur menjadi fakta.

